Featured

Pengalaman Berwirausaha

Saya pernah menjalani pekerjaan sebagai seorang wiraswasta, dan beginilah ceritanya..

ketika masa – masa SMA dan kuliah, entah kenapa saya ini kreatif sekali dalam mencari uang. sewaktu SMA saya pernah menjadi ojek, membantu mengerjakan tugas teman – teman, dan melakukan adapun yang dibutuhkan selama itu menghasilkan. sewaktu kuliah malah saya sudah menjadi broker HP, broker konveksi, sampai jualan peralatan olahraga secara online. saya merasa punya kelebihan dalam memanfaatkan peluang dan langsung mengeksekusinya. saya punya uang jajan tambahan dan saya merasa bahagia atas itu.

sampai suatu ketika ketika saya lulus kuliah, saya berfikir. begini isi pikiran saya “kalau saya bekerja ikut orang, pekerjaan saya hanya akan membuat bos saya semakin kaya. buat apa bekerja tapi untuk membuat orang lain jadi lebih kaya?, lebih baik kekayaan itu saya miliki utuh dengan bekerja sendiri daripada ikut orang”

dengan berbekal pikiran itu, maka saya pun mengajukan modal ke orang tua. usaha yang saya miliki pertama kali adalah konveksi. butuh 20juta rupiah untuk dapat membeli 1 set alat konveksi secara utuh, dan semua uang itu saya pinjam dari orang tua. mungkin karena orang tua saya yang gak tega melihat anaknya yang merengek ingin jadi wirausaha (padahal awalnya orang tua tidak setuju dengan pilihan saya), akhirnya orang tuapun mengucurkan dananya untuk saya.

tahun pertama saya jalani dengan riang gembira. saya punya 1 penjahit & 1 tukang packaging waktu pertama kali buka. susahnya menjadi wirausaha tidak terasa, karena impian awal saya akhirnya tercapai. padahal faktanya kalau diingat – ingat, buka usaha sendiri terutama di bidang produksi itu susah. saya harus hilir mudik membeli kain, ke tukang potong, ke tukang sablon, kemudian baru menyerahkan pada penjahit di rumah. dan semua itu timeline nya harus tepat, agar penjahit saya di rumah dapat terus bekerja (karena upahnya borongan). tapi itu semua tidak saya rasakan, karena semangat awal saya tadi.

tahun pertama semua berjalan lancar, kadang rugi karena belum bisa menghitung biaya produksi, dll. tapi setelah tahu, maka keuntungan pun mengalir. Puji Tuhan di tahun pertama semua lancar dan saya pun mulai sedikit demi sedikit mendapatkan nama di awal tahun buka.

pada tahun kedua setelah melihat angin yang bagus di tahun pertama, saya memutuskan untuk melakukan improve dengan membuka toko kaos polos di dekat rumah. tabungan usaha pun saya kucurkan untuk sewa tempat, isi barang, renov, dll. dan dalam improvisasi inipun, saya meminjam uang orang tua untuk membeli bahan untuk stok kaos polos.

bulan pertama dan kedua setelah membuka toko, Puji Tuhan agak rame karena pemasaran saya yang memang cukup gencar di media sosial. tapi setelah – setelahnya, kemalangan pun terjadi tanpa dinyana nyana. dalam setahun, toko saya 3x kemalingan HP dan 2x kemalingan produk kaos (dalam jumlah yang tidak sedikit). dalam setahun itu pula, laba toko hanya bisa dipakai untuk membayar pegawai (yang hanya 1) dan sewa toko. tidak ada laba sama sekali untuk saya. tepat setahun, toko saya tutup dan saya kembali fokus hanya ke konveksi / menerima pesanan dari customer.

tahun ketiga / tahun dimana saya akan menikah, pesanan tiba – tiba sepi sekali. biasanya 1 bulan saya bisa menerima 3 – 5 pesanan, di tahun ini paling – paling saya hanya menerima 2 atau 1. promosipun sudah gencar saya lakukan, dan saya juga bertanya pada teman – teman lain yang bergerak di bidang yang sama, memang musimnya lagi sepi. dan mereka juga ga tau kenapa tiba – tiba keadaannya seperti ini.

itulah pengalaman saya berwirausaha dalam kurun waktu 3 tahun. ada pepatah yang bilang, bahwa dalam jangka waktu 3, 5, dan 10 tahun sebuah bisnis akan benar – benar teruji sustainable nya, dan dalam waktu 3 tahun usaha saya berhenti.

tentu dalam sebuah peristiwa, selalu ada buah yang siap di petik. saya pun menyadari, bahwa saya telah salah beberapa hal dalam mengelola usaha saya saat itu.

seperti apa kesalahan saya? akan saya tuliskan di tulisan saya berikutnya.

Featured

Merasakan Tangan Tuhan

Saya menikah di tahun 2018, bertepatan dengan usaha yang saya rintis sedang lesu – lesunya. alhasil setelah menikah saya menganggur hampir 4 bulan karena usaha konveksi yang saya jalankan mendadak sepi pelanggan. cap kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab pun terlintas di pikiran. saya juga ga tau, kenapa tiba – tiba sepi seperti ini, padahal sebelum – sebelumnya itu selalu ada orderan yang masuk. teman – teman konveksi pun juga merasakan hal yang sama, pasar memang sedang lesu.

akhirnya saya menyerah. setelah berdikusi dengan istri, saya pun memutuskan untuk bekerja. setelah menunggu 3 bulan untuk melamar sana – sini (melamar pekerjaan), akhirnya saya diterima di perusahaan teknik yang bergerak di bidang spare part industri. background sarjana hukum dan juga mantan pengusaha konveksi pun tidak banyak membantu dalam bidang yang baru ini. berbekal kepepet karena dompet yang kosong, saya pun mantap menjadi sales di perusahaan tersebut.

saya masih ingat rasanya, bagaimana menjadi seseorang yang paling bodoh dalam sebuah pekerjaan. ga tau apa – apa tentang mekanikal, di remehkan teman kerja, target yang saya rasa terlalu tinggi. tapi berbekal keyakinan, saya maju dan terus berusaha dengan cara yang saya bisa.

ngomong -ngomong dengan target yang tinggi tadi, tentu seorang sales pastilah mengandalkan komisi untuk mendapatkan uang lebih tiap bulannya. nah masalahnya, saya bingung bagaimana cara mencapai target yang menjadi beban saya tiap bulan ini. apalagi sebelum saya, target akun saya memang sudah tinggi dan target ga bisa turun. perusahaan juga ga mau tau, ga ada keringanan untuk sales baru. akhirnya ya saya pasrah menerima takdir ini, dan menjalani semua.

setelah selesai training, saya diikat menjadi pegawai tetap. saya ga habis pikir, apa yang membuat perusahaan mem-pegawai tetapkan saya. cara ngomong saya masih berantakan, belum tau seluk beluk memasarkan barang bagaimana. cuman saya memang pandai berstrategi, dan berintegritas. hehehe

8 bulan lamanya saya jalani dengan hanya menerima pokok dari gaji, alias belum pernah nyampe target sama sekali. dan itu tentu menjadi beban tersendiri.

tapi entah suatu ketika, saya berhasil menjual sebuah barang yang bernilai 250 juta! barang itu sebuah gearbox / reducer (teman – teman mekanik pasti tau). dan gearbox itu baru bisa di kirim ketika saya 9 bulan bekerja di perusahaan ini. alhasil achieve – lah saya. dan ga sampe disitu, orderan saya tetiba ramai sekali, dan bulan berikutnya saya achieve lagi. belum lagi konveksi yang saya jalankan sebagai side job, juga lumayan banyak orderan (walaupun beberapa saya tawaran order saya tolak karena bingung bagi waktu antara kerja dan side job ini). alhasil pendapatan saya lumayan dan bisa buat di tabung.

ada yang bisa tebak kenapa rejeki saya tiba – tiba deras sekali dan saya juga sama skali ga menduganya? karena dalam waktu dekat, istri saya akan melahirkan. saya merasa di bantu sekali oleh Tuhan dalam hal ini. tabungan kami jadi lumayan bertambah, sehingga kami bisa membeli peralatan bayi sendiri. mengadakan sendiri 7 bulanan untuk bayi kami, dan juga membayar rumah sakit bersalin kami sendiri. yang mana karena kelahiran anak pertama, sang istri minta rumah sakit yang agak bagus dan tentu itu berbanding lurus dengan biaya. tapi karena ada tabungan, kami jadi tidak takut untuk melahirkan di rumah sakit tersebut. sungguh saya gak nyangka rejeki saya tiba – tiba mengalir sangat deras dan lewat jalan yang gak kami sangka – sangka. sampai sekarang pun masih ada orderan konveksi yang masuk. walaupun sedikit – sedikit, lumayan untuk tambahan tabungan kami.

untuk selanjutnya kami akan berencana untuk membangun rumah. dengan gaji yang masih standart UMR dan komisi yang belum tentu ada setiap bulan, tapi entah kenapa saya percaya bahwa Tuhan akan menolong lagi. dengan cara yang tidak pernah masuk dalam akal kami, selalu ada saja pertolongan dan bantuannya. tentu selama kita masih berusaha dan selalu bijak dalam menggunakan uang kita.